<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sofianonline.com &#187; ISLAM</title>
	<atom:link href="http://sofianonline.com/category/islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sofianonline.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 00:02:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Ibu, ridhomu kuharapkan</title>
		<link>http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan</link>
		<comments>http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 16:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[ridho ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=706</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/uploads/2011/09/ridho-orang-tua-300x252.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="ridho orang tua" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan' addthis:title='Ibu, ridhomu kuharapkan '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Hari ini saya tertegun melihat sebuah profile picture di facebook. Betapa tidak, foto itu mengingatkan saya kembali akan betapa besar arti kasih sayang orang tua (ibu) semasa kita kecil hingga saat ini. Bukankah ridho Alloh itu adalah ridho orang tua di dunia ini. Bahkan sampai dikatakan bahwa surga itu terdapat di bawah kaki ibu. Foto [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan' addthis:title='Ibu, ridhomu kuharapkan ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan' addthis:title='Ibu, ridhomu kuharapkan '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p>Hari ini saya tertegun melihat sebuah profile picture di <a title="Im a Muslim &amp; Im Proud " href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150307084153122&amp;set=a.10150121397883122.286125.69158688121&amp;type=1&amp;ref=nf" target="_blank">facebook</a>. Betapa tidak, foto itu mengingatkan saya kembali akan betapa besar arti kasih sayang orang tua (ibu) semasa kita kecil hingga saat ini. Bukankah ridho Alloh itu adalah ridho orang tua di dunia ini. Bahkan sampai dikatakan bahwa surga itu terdapat di bawah kaki ibu.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-707" title="ridho orang tua" src="http://sofianonline.com/wp-content/uploads/2011/09/ridho-orang-tua-300x252.jpg" alt="" width="300" height="252" /></p>
<p>Foto tersebut adalah foto seorang anak yang sedang menggendong ibunya yang sepertinya sedang melakukan haji. Teringat kembali sebuah kisah di zaman Rasululloh saw ketika seorang pemuda mendatangi Rasululloh saw dan menanyakan pada beliau: Ya Rasululloh, saya melaksanakan ibadah haji bersama ibu saya yang sudah tidak bisa berjalan sehingga thawaf, sai dilakukan sambil menggendong ibu. Sudahkah kebaikan ini membalas kebaikan ibu kepada saya? Rasululloh menjawab belum. Hingga tiga kali ia menanyakan hal yang sama selalu dijawab belum, hingga beliau mengatakan kurang lebihnya: sebanyak apapun kebaikan yang dilakukan seorang anak kepada ibunya, tidak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, keapada seorang anaknya.</p>
<p>Sebegitu besarnya kedudukan seorang ibu sehingga dalam hadits shohih Bukhari-Muslim dinyatakan:</p>
<p>Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli?” Beliau menjawab, “Ibumu! Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab lagi, “Ibumu!” Ia balik bertanya, “Siapa lagi?” Rasul kembali menjawab, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab, “Bapakmu!” [Dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani Bukhari-Muslim]</p>
<p>Ibulah yang mengandung kita dalam 9 bulan, bersusah payah mengupayakan agar anak yang dilahirkannya akan sehat dan jadi anak sholih/sholihah dan berguna bagi semua. Ibu pula yang melahirkan kita ke dunia ini dengan taruhan nyawa. Ibu yang menyusui anak-anaknya. Dan ibu juga yang menjadi guru kita di rumah, mendidik dan membesarkan dalam kebaikan.</p>
<p>Nah, bagi mereka yang masih memiliki ibu, segeralah minta maaf dan ampun padanya, jangan menghardiknya atau membantahnya. Senangkanlah hati beliau dengan melakukan hal-hal yang membuat dirinya bangga, atau berilah sesuatu hadiah untuknya.</p>
<p>Bahkan bagi mereka yang mempunyai dosa yang sangat besar, ibu bisa menjadi sarana pengampunan dosa kita kepada Alloh.</p>
<p>Dalam sebuah hadits dikisahkan ada seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw, orang itu berkata, “Aku telah melakukan dosa besar. Apakah dosaku bisa diampuni?” Rasulullah saw balik bertanya, “Apakah engkau masih punya ibu?’Orang itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah engkau masih punya bibi?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah bersabda, “Berbaktilah kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p>Semoga kita termasuk orang-orang yang diridhoi Alloh karena orang tua (ibu), mendapat ampunan dosa karena ibu, dan masuk surga juga karena ibu.</p>
<p>Suatu ketika ada seorang yang bernama Jamihah datang menemui Nabi Muhammad saw. Jamihah berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berperang. Aku datang untuk bermusyawarah denganmu.” Rasulullah saw bertanya, “Apakah engkau masih punya ibu?” Jamihah menjawab, “Ya.” Rasulullah saw bersabda, “Jangan tinggalkan dia (ibumu). Sesungguhnya surga berada di telapak kakinya.” (HR. An-Nasa`i dan Ibnu Majah).</p>
<p>Al-haqq min robbik</p>
<p><embed src="http://www.youtube.com/v/_avBBic8zyw&rel=1" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="300" height="250"></embed></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan' addthis:title='Ibu, ridhomu kuharapkan ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/ibu-ridhomu-kuharapkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Idul Fitri 1432H (Happy Eid Mubarak)</title>
		<link>http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak</link>
		<comments>http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 14:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/uploads/2011/08/lebaran-1432h-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="lebaran 1432h" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak' addthis:title='Selamat Idul Fitri 1432H (Happy Eid Mubarak) '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H. Happy Eid Mubarak 1432 H Setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Romadhon, semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita baik itu puasa, sholat, tilawah, taubat, dan lain sebagainya sehingga kita menjadi orang-orang yang berpredikat Muttaqien. Dengan demikian Alloh akan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak' addthis:title='Selamat Idul Fitri 1432H (Happy Eid Mubarak) ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak' addthis:title='Selamat Idul Fitri 1432H (Happy Eid Mubarak) '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H.</p>
<p>Happy Eid Mubarak 1432 H</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-675" title="lebaran 1432h" src="http://sofianonline.com/wp-content/uploads/2011/08/lebaran-1432h.jpg" alt="" width="450" height="300" /></p>
<p>Setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Romadhon, semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita baik itu puasa, sholat, tilawah, taubat, dan lain sebagainya sehingga kita menjadi orang-orang yang berpredikat Muttaqien. Dengan demikian Alloh akan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan membebaskan kita dari siksaan api neraka.</p>
<p>اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسْلِمْهُ مِنِّي مُتَقبَّلاً</p>
<p><em>“Ya Allah SWT, selamatkanlah daku hingga bulan Ramadhan depan, pertemukan Ramadhan denganku, dan terimalah seluruh amalanku pada bulan Ramadhan.”</em></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak' addthis:title='Selamat Idul Fitri 1432H (Happy Eid Mubarak) ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/selamat-idul-fitri-1432h-happy-eid-mubarak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Perkara Perusak Amal</title>
		<link>http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal</link>
		<comments>http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 03:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[perusak amal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal' addthis:title='7 Perkara Perusak Amal '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Nabi saw telah bersabda: &#8220;Jauhilah olehmu 7 perkara yang dapat menghancurkan amal.&#8221; Sahabat:&#8221;Ya rasulullah, apakah 7 perkara itu?&#8221; Rasulullah: &#8220;Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta riba, makan harta anak yatim, melarikan diri ketika perang berkecamuk, dan menuduh berzina kepada wanita yang baik lagi beriman.&#8221; (Muttafaq &#8216;alaih).<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal' addthis:title='7 Perkara Perusak Amal ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal' addthis:title='7 Perkara Perusak Amal '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p>Nabi saw telah bersabda: &#8220;Jauhilah olehmu 7 perkara yang dapat menghancurkan amal.&#8221; Sahabat:&#8221;Ya rasulullah, apakah 7 perkara itu?&#8221; Rasulullah: &#8220;Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta riba, makan harta anak yatim, melarikan diri ketika perang berkecamuk, dan menuduh berzina kepada wanita yang baik lagi beriman.&#8221; (Muttafaq &#8216;alaih).</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal' addthis:title='7 Perkara Perusak Amal ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/7-perkara-perusak-amal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hendaklah Berkata Baik atau Diam</title>
		<link>http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam</link>
		<comments>http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 15:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Berkata Baik]]></category>
		<category><![CDATA[diam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam' addthis:title='Hendaklah Berkata Baik atau Diam '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, &#8230; (HR Bukhari no. 6018, Muslim no. 47) Makin maraknya fenomena jejaring sosial di internet tentunya memberikan dampak baik sekaligus buruk bagi kehidupan kita. Dengan mudahnya seseorang berkomentar sehingga tak jarang komentarnya itu kadang dapat menyakiti hati orang lain [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam' addthis:title='Hendaklah Berkata Baik atau Diam ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam' addthis:title='Hendaklah Berkata Baik atau Diam '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p><strong><em>Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, &#8230;<br />
(HR Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)</em></strong></p>
<p>Makin maraknya fenomena jejaring sosial di internet tentunya memberikan dampak baik sekaligus buruk bagi kehidupan kita. Dengan mudahnya seseorang berkomentar sehingga tak jarang komentarnya itu kadang dapat menyakiti hati orang lain bahkan dapat sampai membawanya ke ranah hukum.</p>
<p>Ketajaman lidah melebihi mata pedang. Banyak orang celaka karena tidak dapat menjaga lidahnya. Namun tak sedikit pula orang yang mulia, dihormati, disegani dan dipercaya karena lidahnya. Golongan ini karena mampu mencegah dan mengatasi bahaya yang ditimbulkan oleh lisannya.</p>
<p>Sudah telah banyak dicontohkan di hadapan kita semua. Betapa banyak bencana atau musibah yang ditimbulkan akibat lisan seseorang. Seseorang bisa melakukan pembunuhan hanya karena sebuah kata-kata yang dinilai menghina.</p>
<p>Suatu ketika Umar bin Khatab mengunjungi Abu Bakr. Ketika itu, Umar mendapatinya sedang menarik-narik lidah dengan tangannya. Mendapati peristiwa tersebut, seraya Umar bertanya, “Apa yang sedang anda lakukan? Semoga Allah mengampunimu!” Abu Bakr menjawab, “Inilah benda yang akan menjerumuskanku ke neraka.”</p>
<p>Dalam banyak sabdanya, Rosulullah senantiasa berpesan ke pada ummatnya supaya senantiasa menjaga lisan, agar tidak mudah “memuntahkan” kata-kata yang bisa menyelakakan diri sendiri, lebih-lebih orang lain.</p>
<p>Selain kemaluan, lidah merupakan salah satu biang yang sangat berpotensial menggiring kita ke pada kebinasaan, &#8220;Barang siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) maka aku menjamin untuknya surga.&#8221; (HR. Bukhari).</p>
<p>Madu dan Racun Lisan</p>
<p>Secara kasat mata, lidah hanyalah bagian kecil dari organ tubuh manusia. Ia lentur, tidak bertulang. Namun, dibalik ‘kelembutannya’ itu, tersimpan kedahsyatan yang mampu menghantarkan manusia ke pintu gerbang kebahagiaan, sekaligus bisa menjerumuskan si empunya ke dalam kehinaan hidup di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah bin Ma’ud, “Wahai lisan, ucapkanlah yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung! Diamlah dari mengucapkan yang buruk,buruk, niscaya kamu akan selamat sebelum menyesal!”</p>
<p>Laksana sebuah pedang yang terhunus, ia akan bermanfaat ketika si pemilik memanfaatkannya untuk sesuatu yang berguna. Begitu pula sebaliknya, ia justru akan berubah menjadi beban siapa saja, ketika ia tidak mampu memanfaatkannya dengan baik, atau menggunakan untuk ‘membabat’ siapa/apa saja, tak peduli dirinya sendiri. Tentu yang demikian ini, sangat membahayakan bagi keselamatan dirinya, ataupun orang lain. begitulah kira-kira analogi dari pada lisan.</p>
<p>Dan perlu diketahui, sejatinya lisan itu lebih berbahaya dari pedang, lebih beracun dari pada bisa, sebab, ia bisa membunuh tanpa harus melukai, bisa melumpuhkan, tanpa ada perlawanan (fisik). Kenapa?, karena lemparan peluru-peluru (baca: kata-kata) nya, langsung menghujam pada titik kelemahan manusia, hati. “Al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhu ibaru (perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum –hati-).</p>
<p>Imam Al-Ghazali telah menetapkan lisan (banyak bicara), sebagai racun pertama hati, yang menyebabkan manusia jauh dari cahaya Ilahiayah. Dalam kitab nya yang ternama, “Ihya’ Ulummidin” beliau banyak menerangkan tentang bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh lidah.</p>
<p>Saat ini, sepertinya kebanyakan manusia telah terseret ke lembah kehinaan lisan. Betapa mudah mereka mengumbar kata-kata, tanpa mempertimbangkan efek sampingnya, apakah itu membawa mashlahah (kebaikan), atau, justru sebaliknya, mafsadat (keburukan).</p>
<p>Lisan seseorang adalah merupakan cerminan dari baik dan buruk dan cerminan kualitas iman seseorang. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, &#8220;Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya.&#8221; (HR. Imam Ahmad dan selainnya)</p>
<p>Macam-Macam ‘Bisa’ Lisan</p>
<p>Pada hakekatnya, banyak sekali jenis penyakit yang bersumber dari lisan ini. Sebagian, bisa menghantarkan mereka keluar dari Islam. Sebagian yang lain, melahirkan dosa yang besar, akan tetapi tidak menjatuhkan mereka ke pada kekafiran. Dan di antara penyakit itu adalah:</p>
<p>1. Ucapan Kufur<br />
Ucapan kufur, merupakan ucapan paling buruk yang akan mengeluarkan kaum muslimin dari keimanan mereka. Barang siapa yang mengucapkannya dengan penuh kesadaran, missal, “Saya mengakui bahwa ada Tuhan selain Allah”, maka, secara langsung ia difonis sebagai orang murtad alias kufur (keluar dari Islam).</p>
<p>2. Ucapan Yang Mendekati Kekufuran<br />
Saat ini, sepertinya tidak sedikit orang yang terbawa oleh arus kebebasan yang kebablasan. Berlindung dengan dasar Hak Asasi Manusia (HAM), dengan berani mereka mengeluarkan pernyataan yang sangat bertentangan dengan syari’at. Misalnya, seorang muslim berani mengharamkan poligami dan menghalalkan nikah sejenis. Ketika mereka ditegur, mereka justu mengancam dengan dalih melanggar HAM. Pada intinya, hak-hak Allah yang tertera di dalam Al-Quran, ingin mereka letakkan dibawah HAM mereka yang berdasarkan hawa nafsu.</p>
<p>3. Berbohong<br />
Berbohong merupakan istilah yang tidak asing di telinga. Kita sering mendengarnya. Tapi, dalam kontek kehidupan, kita sering menyampingkannya. Padahal efek dari prilaku ini sangat luar biasa, minimal, ia akan menyebabkan si pelaku tidak tenang, terus bimbang dalam menjalani kehidupannya. Sebagaimana sabda Rosul, “Sesungguhnya kebenaran itu (membawa) ketentramandan kebohongan itu (mengakibatkan) kebimbangan.” (HR. Tirmidzi).</p>
<p>Dan bohong yang tingkatannya paling tinggi adalah, berbohong kepada Allah, Rosulnya, dan bersaksi dengan kesaksian yang palsu (terkecuali kalau dihadapan musuh). Dan contoh bahwa seseorang telah berbohong kepada Allah dan Rosul-Nya, ia memberikan penjelasan (fatwa), bahwa Allah dan Rosul-Nya telah berkata demikian, padahal itu bohong. Firman Allah, “Maka tidak ada kedzoliman yang lebih berat selain orang-orang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya.” (Al-‘Araf: 37).</p>
<p>4. Ghibah<br />
Ghibah, menggunjing atau menggosip. Sebagaimana didefinisikan oleh Rosulullah, bahwa ghibah adalah jika , “Engkau menyebut/menceritakan saudaramu dengan ucapan yang (jika dia di depanmu) dia akan membencimu….” (HR. Imam Muslim).</p>
<p>Ditinjau dari segi hukum, ghibah adalah haram. Allah mengumpamakan orang yang doyan me-ghibah adalah mereka yang senamg memakan daging saudaranya yang sudah mati. Firman Allah, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentunya kamu merasa jijik kepadanya……” (Al-Hujurat: 12)</p>
<p>Di tengah arus informasi saat ini, ghibah telah menjadi sesuatu yang dikomersialkan, dan disenangi oleh sebagian orang. Acara infortaiment, adalah jenis ghibah di era modern. Cukuplah firman Allah di atas sebagai teguran bagi kita untuk menjauhi prilaku ghibah ini, apapun wujud perubahannya.</p>
<p>5. Fitnah<br />
Rasa dengki dan iri hati terhadap kesuksesan/kebahagian seseorang, seringkali menjadi pemicu untuk memfitnah orang tersebut. Mencari-cari kelemahan, kemudian menyebarkannya ke pada khalayak umum, adalah wujud dari fitnah itu sendiri. Hal ini sangat dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya, bahkan ia (fitnah) dikategorikan lebih kejam dari pada pembunuhan.</p>
<p>Banyak sekali ancaman Allah melalui lisan Rosul-Nya mengenai balasan bagi mereka yang suka memfitnah, salah satunya adalah hadits berikut ini, “Orang-orang yang suka mengumpat, mencela, mengadu domba, dan mencari-cari aib orang lain bakal digiring di masyar nanti dengan wajah berupa anjing.” (HR. Abu Syaik dan Ali bin Harits).</p>
<p>6. Sikhriyyah<br />
Manusia diciptakan dengan diliputi oleh beberapa kelebihan dan kekurangan. Satu sama lain, pasti mempunyai dua hal ini, kelebihan dan kekurangan. dan untuk melengkapi antar mereka, maka manusia harus saling membantu, bukan dengan saling mencemooh antar satu sama lain. “Laa tahtakir man duunaka falikulli syain maziayatun.” (janganlah meremehkan siapa saja yang lebih rendah dari padamu, karena setiap sesuatu itu memiliki kelebihan). Demikianlah pribahasa Arab menggambarkan, betapa manusia itu jauh dari kesempurnaan.</p>
<p>Sayangnya, kadang karena dorongan hawa nafsu, secara tidak sadar/sadar kita telah meremehkan seseorang, baik itu dengan ucapan, tindakan ataupun dengan isyarat. Secara logika, sebenarnya kita pun menolak ketika ada seseorang yang meremehkan kita, sebab itu, kita harus menghindari perbuatan tercela ini. dan perlu diperhatikan, bahwa, belum tentu orang yang kita perolok-olokkan itu, lebih buruk dari pada kita yang mengolok-ngolokkan, bahkan, bukan suatu kemustahilan, ia lebih baik dari pada kita. Simaklah firman Allah berikut ini, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolo-ngolokkan kaum yang lain. (karena) boleh jadi mereka (diperolokkan) itu lebih baik dari pada mereka (yang memperolokkan).” (Al-Hjurat: 11)</p>
<p>7. Sibabah<br />
Sifat ashabiah (kekelompokkan/kesukuan), kini telah menjakiti sebagian kaum muslimin. Tak jarang karena sifat ini telah mendarah daging, mereka mencela kelompok yang lain, yang tidak sejalan dengan perilaku mereka. Padahal, perselisihan di antara mereka, -hanyalah- perselisihan furu’iah, bukan yang ushul. Jangankan kita, yang masanya jaraknya jauh dengan masa Rosulullah, para sahabatpun, yang hidup di zaman Nabi, juga pernah berselisih pendapat. Masalahnya, perbedaan pendapat di jaman sahabat, tidak menjadikan merenggangkan tali persaudaraan mereka.</p>
<p>Lihat lah fenomena saat ini, karena kelompok lain tidak mengamalkan bacaan ini dan bacaan itu, amalan ini dan amalan itu, dengan mudah mereka menyalahkan antar satu sama lain, bahkan tak jarang juga mereka saling menyesatkan. Pebuatan macam inilah yang kemudian disebut dengan sibabah.</p>
<p>Hal ini sangat dilarang, sebagaimana sabda Rosul, “Mencela orang muslim itu menyebabkan kefasikan dan membunuhnya menyebabkan kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sikap mencela, bukan hanya dilarang untuk sesama muslim, terhadap waktu, angin, ayam jantan yang berkokok, juga berlaku demikian. Sabda Nabi, “Janganlah kamu mencela angin karena angin itu sebagian dari ruh (kekuasaan) Allah.” (Al-Hadits).</p>
<p>8. Memberi Dukungan Yang Buruk<br />
Bukan suatu yang rahasia lagi, kalau ada sebagian orang, atas nama menjaga kekompakan, mereka sepakat untuk melakukan suatu makar, sayangnya, makar tersebut merupakan makar kemaksiatan. Seperti mencuri, menyuap, dan lain sebagainya. Saling mendukung dalam kejelekan/kemaksiatan semacam ini haram hukumnya, sekalipun ia tidak terlibat dalam tindakan makar tersebut. Allah berfirman, “Barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian dari dosanya.” (An-Nisa’: 85)</p>
<p>9. Gemar Mengucapkan Sumpah<br />
Seringkali seseorang karena kepepet, dan demi meyakinkan lawannya, dengan mudah ia bersumpah atas nama Allah. prilaku umbar sumpah, merupakan prilaku buruk, yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang mukmin. Firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (Al-Qalam: 10)</p>
<p>10. Li’an<br />
Li’an adalah memvonis orang dengan ucapan laknat. Sebagai seorang mukmin, kita dilarang keras untuk melaknat sesama saudara seiman. Ketika kita melakukannya, berarti, kita telah membunuh saudara kita sendiri. Rosulullah bersabda, “Mengucapkan laknat kepada orang mukmin (sama halnya) dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari Musliam dan Duhhak)</p>
<p>Demikianlah di antara penyakit lisan, yang bisa membahayakan nasib kita (si empunya lisan) dan orang lain, di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Dan dalam rangka mencegah itu semua, perlu kiranya kita mengerjakan beberapa hal berikut ini:</p>
<p>1. Senantiasa meminta pertolongan kepada Allah atas bahaya lisan kita.<br />
2. Basahilah ia dengan dzikir.<br />
3. Berfikir terlebih dahulu (akan manfaat dan mudharat) sebelum bertutur.<br />
4. Ketika kita menyadari akan kekeliruan ucapan kita, beristighfarlah, dan berjanji untuk tidak mengulanginya.<br />
5. Jauhkanlah diri dari kebiasaan mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat. &#8220;Di antara ciri kebaikan Islam seseorang adalah ketika bisa meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.&#8221; (H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah).<br />
6. Janganlah berbicara berlebihan atau melebih-lebihkan sesuatu.</p>
<p>Demikianlah di antara tips-tips yang akan membebaskan kita dari racun lisan. Mudah-mudahan, Allah menggolongkan kita termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga dan menghiasi lisan dengan dzikir-dzikir cinta, cinta kepada Allah.</p>
<p>Akhirul kalam, Keselamatan seorang manusia juga terletak dalam menjaga lidahnya. Allah menyeru umat-Nya agar menggunakan lidah untuk berzikir dan menyebut nama-Nya.</p>
<p>Nabi bersabda, &#8220;Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata benar atau diam.&#8221; (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain ditegaskan, &#8220;Simpanlah lidahmu, kecuali untuk perkataan yang baik. Dengan bersikap seperti itu, engkau dapat mengalahkan setan.&#8221; (H.R. Ibnu Hibban)</p>
<p>Pesan Nabi menegaskan agar kita harus berbicara yang baik dan benar atau lebih baik diam jika tak mampu. Wallahu ‘alam bis-shawab. [Robin Sah/cha/hidayatullah.com]</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam' addthis:title='Hendaklah Berkata Baik atau Diam ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/hendaklah-berkata-baik-atau-diam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Kebun Emas</title>
		<link>http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas</link>
		<comments>http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 02:11:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[hukum gadai emas]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kebun emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=638</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://i561.photobucket.com/albums/ss55/sofianonline/emas-LM.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="kebun emas" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas' addthis:title='Hukum Kebun Emas '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Fenomena kebun emas makin marak akhir-akhir ini. Apa sebenarnya kebun emas itu dan bagaimana hukum Islam membahas mengenai kebun emas ini? Apakah halal atau haram/riba? Tulisan berikut diambil dari pengusahamuslim.com tentang penjelasan hukum kebun emas oleh Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu Ustadz, and pengasuh milis yang kami cintai, Mohon penjelasan tentang hukum [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas' addthis:title='Hukum Kebun Emas ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas' addthis:title='Hukum Kebun Emas '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p><img class="alignleft" style="margin: 5px;" title="kebun emas" src="http://i561.photobucket.com/albums/ss55/sofianonline/emas-LM.jpg" alt="" width="192" height="161" />Fenomena kebun emas makin marak akhir-akhir ini. Apa sebenarnya kebun emas itu dan bagaimana hukum Islam membahas mengenai kebun emas ini? Apakah halal atau haram/riba?</p>
<p>Tulisan berikut diambil dari pengusahamuslim.com tentang penjelasan hukum kebun emas oleh Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri.</p>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu</div>
<div id="_mcePaste">Ustadz, and pengasuh milis yang kami cintai,</div>
<div>Mohon penjelasan tentang hukum berkebun emas, yang akhir-akhir ini marak di indonesia, sebagai gambaran investasinya sbb:</div>
<div id="_mcePaste">Contoh asumsinya sebagai berikut: Melakukan investasi emas secara rutin sebesar 25 gram</div>
<div id="_mcePaste">- Harga asumsi emas 25 gram = Rp 9.000.000</div>
<div id="_mcePaste">– Pada saat ini Anda punya tambahan uang Rp 3.750.000</div>
<div id="_mcePaste">– Nilai gadai sebesar 80% dari harga taksir emas</div>
<div id="_mcePaste">– Harga Taksir Bank Rp.300.000 pergram</div>
<div id="_mcePaste">– Biaya penitipan emas Rp 2500/gram/bulan</div>
<div id="_mcePaste">Perlu Anda ketahui, taksiran nilai taksir dan kondisi sebenarnya di bank mungkin berbeda-beda, tapi yang terbaik Anda memilih bank yang memberikan: Nilai gadai tinggi, Biaya rendah dan Waktu singkat.</div>
<div id="_mcePaste">Mari kita mulai saja perhitungannya:</div>
<div id="_mcePaste">Misalkan Anda Beli emas batangan Antam 25 gram, lalu Anda gadaikan dan Anda akan mendapatkan dana segar sebesar Rp 6.000.000</div>
<div id="_mcePaste">Perhitungannya sebagai berikut:</div>
<div id="_mcePaste">Rp 300.000 x 80% = Rp 240.000 x 25gram = Rp 6.000.000</div>
<div id="_mcePaste">Anda setor biaya penitipan emas 1 tahun sebesar Rp 2500×25×12 bulan = Rp 750.000</div>
<div id="_mcePaste">Lakukan Investasi emas Anda dengan cara:</div>
<div id="_mcePaste">Beli emas 25 gram lalu Gadaikan emasnya, dapat dana segar Rp 6jt, lalu tambah Rp 3 jt dana dari uang Anda = Rp 9jt lalu beli emas lagi dengan biaya titip Rp 750.000 setahun.</div>
<div id="_mcePaste">Setiap Anda memiliki dana tambahan Rp.3.75 jt lalu ulangi langkah diatas lagi, begitu seterusnya sesuai kebutuhan. Kalau sudah lima kali maka posisi akan menjadi seperti ini:</div>
<div id="_mcePaste">1. Beli Emas 25 gram -&gt; Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -&gt; beli emas lagi | Rp.750rb -&gt; biaya titip</div>
<div id="_mcePaste">2. Beli Emas 25 gram -&gt; Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -&gt; beli emas lagi | Rp.750rb -&gt; biaya titip</div>
<div id="_mcePaste">3. Beli Emas 25 gram -&gt; Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -&gt; beli emas lagi | Rp.750rb -&gt; biaya titip</div>
<div id="_mcePaste">4. Beli Emas 25 gram -&gt; Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -&gt; beli emas lagi | Rp.750rb -&gt; biaya titip</div>
<div id="_mcePaste">5. Beli Emas 25 gram (Emas disimpan)</div>
<div id="_mcePaste">Anda Perhatikan perhitungan di atas bahwa biaya pembelian emas kedua dan seterusnya, 2/3 modal beli emas adalah dari uang bank. Dan setelah waktu berlalu, misalkan harga emas naik sebesar 30 persen, jadi emas batangan 25 gram yang Anda miliki  sekarang nilainya Rp 12jt. Dan ini saatnya Anda panen.</div>
<div id="_mcePaste">Langkah memanennya cukup dibalik saja yaitu: Juallah emas nomor 5, maka anda mendapatkan dana segar 12 jt, dana segar ini kita pakai untuk menebus 2 emas lainnya. Ulangi sampai semua emas ditebus, dan jual semuanya.</div>
<div id="_mcePaste">Maka posisinya sebagai berikut:</div>
<div id="_mcePaste">Hasil penjualan emas 5 buah x Rp 12 jt = Rp 60 jt</div>
<div id="_mcePaste">Tebus gadai 4 x Rp 6 jt     = Rp 24 jt</div>
<div id="_mcePaste">sisa = 36 jt ——&gt; sub total 1</div>
<div id="_mcePaste">Berapa modal anda?</div>
<div id="_mcePaste">1. Beli emas pertama =  Rp 9 jt</div>
<div id="_mcePaste">2. Beli emas ke 2 sampai ke 5 = Rp 3jt x 4 = Rp 12 jt</div>
<div id="_mcePaste">3. Biaya titip Rp 750rb x 4 buah emas =  Rp 3 jt</div>
<div id="_mcePaste">Ttotal modal = Rp 24 jt ——&gt; sub total 2</div>
<div id="_mcePaste">Keuntungan Panen Emas Anda adalah: sub total 1 – sub total 2 = Rp 36 jt – Rp 24 jt = 12 jt</div>
<div id="_mcePaste">Berikut ini Perbandingan keuntungan metode investasi emas biasa vs metode cerdas kebun emas dengan modal awal Rp.24 jt:</div>
<div id="_mcePaste">Modal 24jt belikan emas sewaktu harga batangan 25 gram = 9jt, maka per gram berarti 360rb. Rp.24 jt : 360 rb dapat emas 66.66 gram</div>
<div id="_mcePaste">Ketika harga naik 30% kita jual menjadi Rp 468 ribu/gram: 66.66 * 468 ribu = Rp.31.196.880 dikurangi modal 24 jt = untung  Rp 7.196.880</div>
<div id="_mcePaste">Sumber: http://www.berkebunemas.net</div>
<div id="_mcePaste">Waryanto</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>Jawaban ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri (Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Assalamu&#8217;alaikum</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Apa yang diutarakan, saudara Indra benar adanya, sejatinya yang terjadi pada bekebun emas hanyalah menghutangkan sejumlah emas, atau mengutangkan sejumlah uang dengan memberikan sejumlah bunga. Tidak diragukan itu adalah riba.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Terlebih lagi bila diingat bahwa sejatinya emas dan uang adalah alat tolok ukur nilai barang, dan sebagai alat transaksi, dengan demikian bila uang dan emas digadaikan dengan mengambil keuntungan maka tidak diragukan itu adalah riba.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Ditambah lagi &#8220;GADAI&#8221; hanya ada bila ada piutang, tidak mungkin ada gadai bila tidak ada piutang. Karenanya, setiap keuntungan yang didapat dari gadai adalah bunga dan itu HARAM.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Adapun menggadaikan hewan ternak yang membutuhkan perawatan, maka bila pemilik hewan ternak tidak memberi pakan kepada ternaknya, maka pemberi piutang/penerima gadai hewan berkewajiban memberi pakan. Dan sebagai gantinya ia dibolehkan mengambil susu, atau menunggangi hewan tersebut seharga pakan yang ia berkan, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan demikian tidak ada keuntungan.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Kasus berkebun uang ini semakin mengingatkan kita bahwa umat kita benar-benar telah mengekor umat Yahudi yang melanggar aturan dan syari&#8217;at Allah dengan sedikit tipu daya dan akal-akalan.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Hasbunallahu wa ni&#8217;mal wakil</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
</blockquote>
<div>Berdasarkan penjelasan di atas maka KEBUN EMAS TERMASUK RIBA DAN DIHARAMKAN. Saya sendiri sebelumnya sempet tertarik untuk melakukan hal ini. Namun Alhamdulillah belum sampai pada tahap penggadaian emas ke bank.</div>
<div>Semoga Alloh senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita dan kita selalu bersyukur atas apa yang diberikan dengan tidak mencari kekayaan dengan cara yang diharamkan.</div>
</div>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas' addthis:title='Hukum Kebun Emas ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Puasa Asyura 10 Muharram</title>
		<link>http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram</link>
		<comments>http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 03:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Puasa Asyura]]></category>
		<category><![CDATA[puasa 10 Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram' addthis:title='Cara Puasa Asyura 10 Muharram '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat. Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram' addthis:title='Cara Puasa Asyura 10 Muharram ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram' addthis:title='Cara Puasa Asyura 10 Muharram '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p><em>Alhamdulillah</em>, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p dir="ltr"><strong>Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram</strong></p>
<p dir="ltr">Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya,</p>
<p dir="rtl">أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah &#8211; Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p dir="ltr">An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p dir="ltr">Lalu mengapa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh An Nawawi.</p>
<p dir="ltr">Pertama: Mungkin saja Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.</p>
<p dir="ltr">Kedua: Boleh jadi pula beliau memiliki <em>udzur</em> ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p dir="ltr">Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p dir="ltr">Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram.</li>
<li>Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah muthlaq. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
<p dir="ltr">Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn6">[6]</a> Bulan haram adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.</p>
<p dir="ltr"><strong>Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa ‘Asyura</strong></p>
<p dir="ltr">Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn7">[7]</a>. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,</p>
<p dir="rtl">وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ</p>
<p dir="ltr">“Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”<em>Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang</em>.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”<em>Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p dir="ltr">An Nawawi -<em>rahimahullah</em>- mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p dir="ltr"><strong>Sejarah Pelaksanaan Puasa ‘Asyura<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn10"><strong>[10]</strong></a></strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Tahapan pertama</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan yang lain untuk melakukannya.</p>
<p dir="ltr">Dari ’Aisyah -radhiyallahu ’anha-, beliau berkata,</p>
<p dir="rtl">كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ</p>
<p dir="ltr">”<em>Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa)</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p dir="ltr"><strong>Tahapan kedua</strong>: Ketika tiba di Madinah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.</p>
<p dir="ltr">Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p dir="rtl">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.</p>
<p dir="ltr">“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bertanya, ”<em>Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?</em>” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”<em>Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini</em>”. Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> lantas berkata, ”<em>Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.</em>”. Lalu setelah itu Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p dir="ltr">Apakah ini berarti Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi?</p>
<p dir="ltr">An Nawawi –<em>rahimahullah-</em> menjelaskan, ”Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliau <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). <em>Wallahu a’lam</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p dir="ltr">Para ulama berselisih pendapat apakah puasa ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu’akkad? Di sini ada dua pendapat:</p>
<p dir="ltr">Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada masa tahapan kedua, puasa ‘Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom.</p>
<p dir="ltr">Pendapat kedua: Pada masa tahapan kedua ini, puasa ‘Asyura dihukumi sunnah mu’akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hambali.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p dir="ltr">Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura tidaklah diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi -rahimahullah-.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p dir="ltr"><strong>Tahapan ketiga</strong>: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak<em> </em>memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar berikut ini. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan,</p>
<p dir="rtl">أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p dir="ltr">Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan, “Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, beliau meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama.</p>
<p dir="ltr">Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa’ad mengatakan, “<em>Kami masih tetap melakukannya.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p dir="ltr">Intinya, puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan).</p>
<p dir="ltr"><strong>Tahapan keempat</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bertekad  di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.</p>
<p dir="ltr">Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhuma</em> berkata bahwa ketika Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,</p>
<p dir="rtl">يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.</p>
<p dir="ltr">“<em>Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani</em>.” Lantas beliau mengatakan,</p>
<p dir="rtl">فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ &#8211; إِنْ شَاءَ اللَّهُ &#8211; صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan</em>.” Ibnu Abbas mengatakan,</p>
<p dir="ltr">فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.</p>
<p dir="ltr">“<em>Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p dir="ltr"><strong>Menambahkan Puasa 9 Muharram</strong></p>
<p dir="ltr">Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahwa di akhir umurnya, Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun beliau sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu.</p>
<p dir="ltr">Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi<em>rahimahullah</em>.</p>
<p dir="ltr">Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.</p>
<p dir="ltr">Apa hikmah Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi <em>rahimahullah</em> melanjutkan penjelasannya.</p>
<p dir="ltr">Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak <em>tasyabbuh</em> (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. <em>Wallahu a’lam</em>.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p dir="ltr">Ibnu Rojab mengatakan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p dir="ltr">Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:</p>
<ol>
<li>Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.</li>
<li>Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn21">[21]</a></li>
</ol>
<p dir="ltr"><strong>Puasa 9, 10, dan 11 Muharram</strong></p>
<p dir="ltr">Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn22">[22]</a>. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas<em>radhiyallahu ’anhuma</em>. Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً</p>
<p dir="ltr">“<em>Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya</em>.”</p>
<p dir="ltr">Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho’if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, ”Daud kadang <em>yukhti’</em> (keliru).” Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).</p>
<p dir="ltr">Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam <em>Ma’anil Atsar</em>, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau <em>radhiyallahu ’anhuma</em> berkata,</p>
<p dir="rtl">خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram</em>.” Sanad hadits ini adalah <em>shohih</em>, namun diriwayatkan secara <em>mauquf</em> (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). <a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p dir="ltr"><strong>Catatan</strong>: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.</p>
<p dir="ltr">Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, ”<em>Jika ragu mengenai penentuan awal  Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p dir="ltr"><strong>Sebagai Motivasi</strong></p>
<p dir="ltr">Semoga kita terdorong untuk melakukan puasa Asyura. Cukup ayat ini sebagai renungan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ</p>
<p dir="ltr"><em>“(Kepada mereka dikatakan): &#8220;Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu&#8221;.”</em> (QS. Al Haqqah: 24)</p>
<p dir="ltr">Mujahid dan selainnya mengatakan, ”Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, serta akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati).”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftn25">[25]</a> Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa.</p>
<p dir="ltr"><em>Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009.</em></p>
<p dir="ltr"><em>Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik.</em></p>
<p dir="ltr"><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;">Artikel <a href="http://www.rumaysho.com/">http://rumaysho.com</a></span></p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;">Diselesaikan di Panggang-Gunung Kidul, pada hari mubarrok (Jum’at), 1 Muharram 1431 H</span></p>
<hr />
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj</em>, An Nawawi, 8/55, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref3">[3]</a> Idem.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 67, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif, </em>hal. 66.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref6">[6]</a> Lihat<em> Latho-if Al Ma’arif, </em>hal. 71.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref7">[7]</a> Inilah yang dimaksud dengan ‘Asyura yaitu tanggal 10 Muharram. Yang memiliki pendapat berbeda adalah Ibnu ‘Abbas yang menganggap ‘Asyura adalah tanggal 9 Muharrram. Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 99.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Muslim no. 1162.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Al Minhaj Syarh Muslim</em>, 8/4.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref10">[10]</a> Diolah dari penjelasan Ibnu Rajab Al Hambali dalam <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 92-98.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref12">[12]</a> HR. Muslim no. 1130</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref13">[13]</a> <em>Al Minhaj Syarh Muslim</em>, 8/11.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 94.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref15">[15]</a> Lihat <em>Al Minhaj Syarh Muslim</em>, 8/4.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref16">[16]</a> HR. Muslim no. 1126.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 96.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Muslim no. 1134.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref19">[19]</a> Lihat <em>Al Minhaj Syarh Muslim</em>, 8/12-13.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref20">[20]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 99.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref21">[21]</a> Lihat <em>Tajridul Ittiba’</em>, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili, hal. 128, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1428 H.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref22">[22]</a> Sebagaimana pendapat Ibnul Qayyim dalam <em>Zaadul Ma’ad</em>.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref23">[23]</a> Dinukil dari catatan kaki dalam kitab <em>Zaadul Ma’ad</em>, Ibnul Qayyim, 2/60, terbitan Darul Fikr yang ditahqiq oleh Syaikh Abdul Qodir Arfan.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref24">[24]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 99.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2832-amalan-puasa-asyura.html#_ftnref25">[25]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 72.</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram' addthis:title='Cara Puasa Asyura 10 Muharram ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/cara-puasa-asyura-10-muharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istighfar pelindung bencana</title>
		<link>http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana</link>
		<comments>http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 00:42:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/uploads/2010/11/Penghulu Istighfar.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="Penghulu Istighfar" title="Penghulu Istighfar" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana' addthis:title='Istighfar pelindung bencana '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>&#8220;Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.&#8221; (QS.Al-anfal: 33) &#8220;Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana' addthis:title='Istighfar pelindung bencana ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana' addthis:title='Istighfar pelindung bencana '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><blockquote><p><strong>&#8220;Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.&#8221; (QS.Al-anfal: 33)</strong></p>
<p><strong>&#8220;Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.&#8221; (QS: As-Syuura: 30-31)</strong></p></blockquote>
<p></p>
<p><center><img title="Penghulu Istighfar" src="http://sofianonline.com/wp-content/uploads/2010/11/Penghulu Istighfar.jpg" alt="Penghulu Istighfar" ></center></p>
<p>Dalam setahun ini sudah bertubi-tubi bencana yang datang menimpa bangsa ini. Gempa bumi, banjir bandang, gunung meletus, angin puting beliung, dan lain sebagainya. Ntah sampai kapan zamrud khatulistiwa yang dahulunya subur makmur aman sejahtera ditimpa musibah ini.</p>
<p>&#8220;Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).&#8221; (Ar-Ruum (31): 41)</p>
<p>Telah jelaslah Allah mengabadikan firmannya dalam Al Qur&#8217;an surat ArRuum:41. Semua kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia sendirilah yang menyebabkan kerusakan di bumi-Nya ini. Manusia tidak bisa menjaga amanahnya memelihara alam sekitar yang dikaruniakan Allah SWT untuk dikelola. Manusia tidak lagi bersyukur atas ni&#8217;mat kekayaan alam yang diberikan sang Maha Kaya, Al-Ghaniy. Akibatnya bencana datang sesuai sunnatullah atas kerusakan yang terjadi.</p>
<p><strong>Istighfar dan taubat penolak bencana.</strong></p>
<p>Dalam sebulan terkahir ini saja di negeri ini telah terjadi 3 bencana besar antara lain banjir bandang Wasior, Tsunami Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi. Belum lagi bencana-bencana lain yang bersifat minor.</p>
<p>Sebenarnya ada hal yang dapat menolak kita dari bencana yang datang. Seperti yang dicantumkan di awal, dalam AlQur&#8217;an surat AlAnfal:33 &#8220;Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun&#8221;.</p>
<p><strong>Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Kami (para sahabat) dahulu memiliki dua penjagaan (dari bencana), yakni adanya Rasululllah saw dan kami sering beristighfar, sedangkan kalian kini hanya memiliki satu penjaga, yakni jika kalian masih beristighfar. Maka jika kalian sudah meninggalkan istighfar, tidaklah kalian memiliki penjaga dari bencana”.</strong></p>
<p>Ya, seperti yang dikatakan Abu Musa al-Asy’ari RA, penjagaan pertama, nabi Muhammad SAW telah tiada. Tinggalah penjagaan kedua yaitu istighfar yang konsisten. Istighfar dalam arti bukan hanya sekedar mengucap &#8220;Astaghfirullah&#8221; ketika bencana datang.</p>
<p>Istighfar yang dimaksud adalah meminta ampun atas dosa-dosa kecil maupun besar (taubat). Hal ini adalah wajib bagi setiap individu muslim, bukan hanya para pejabat elit, namun juga untuk wong cilik. Taubat dari korupsi, taubat dari merusak alam, taubat dari keserakahan, taubat dari kemaksiatan, taubat dari meninggalkan perintah, taubat dari segala perbuatan yang merugikan. Dengan langkah ini, maka bencana insya Allah tidak akan datang.</p>
<p>Namun mengapa musibah itu tetap datang walau kita telah bertaubat? Apa yang harus kita lakukan sebagai persiapan?</p>
<p>Jika musibah tetap datang, mungkin ini akibat dari orang lain di lingkungan kita, kemaksiayatan, korupsi, pembunuhan, dsb meraja lela. Itulah gunanya kita berdakwah kepada mereka agar adzab ini juga tertolak.</p>
<p>Untuk mengantisipasi hal ini, berusahalah agar kita mendapatkan husnul khotimah (kesudahan yang baik di akhir hayat).</p>
<p><strong>Menjaga wudhu</strong></p>
<p>Menjaga wudhu adalah hal yang banyak diamalkan oleh para sahabat RA. Dengan menjaga wudhu berarti menjaga diri selalu suci sehingga apabila kita meninggal, meninggal dalam kesucian dan kecintaan Allah SWT. Firman Allah SWT: &#8220;Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri&#8221; (QS. Al-Baqarah: 222)</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, Bahwasanya Nabi shollallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal selepas sholat subuh : &#8220;Ceritakan kepada saya satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara terompahmu berada di pintu surga&#8221;, Bilal berkata : &#8220;Setiap saya berwudhu, kapan pun itu, baik siang maupun malam, saya selalu melakukan sholat dengan wudhu tersebut&#8221; (HR. Al-Bukhari)</p>
<p><strong>Menjaga shaum sunnah</strong></p>
<p>Puasa adalah salah satu ibadah yang dirasakan selama sehari penuh, yakni sejak terbitnya matahari hingga terbenam. Sehingga jika kita wafat secara tiba-tiba diharapkan kita sedang beribadah puasa, yang berarti dalam keadaan kebaikan. Puasa yang dilakukan bisa senin kamis atau pun puasa Daud.</p>
<p><strong>Menghafal alquran</strong></p>
<p>Dengan menghafal AlQur&#8217;an maka ayat-ayat Allah ini akan selalu tertanam di hati.<br />
Ada sebuah kisah nyata yang pernah saya baca. Seorang lelaki muda tertabrak mobil lain di sebuah terowongan ketika ia akan mencek kondisi mobilnya yang mogok. Lalu ambulans pun datang dan ia dibawa ke rumah sakit. Di perjalanan, petugas medis di dalam ambulans mendengar sang pemuda sedang membaca alQur&#8217;an dengan suara yang merdu sambil jarinya telunjuknya memberikan isyarat. Dan tak lama pun setelah itu ia wafat tentunya dalam kondisi husnul khotimah. Berita itu pun dilaporkan pada keluarganya dan sang keluarga menceritakan bahwa si pemuda memang istqomah dalam menghafal ayat-ayat Allah. Bibirnya tidak pernah lepas dari dzikir walau ia sedang menyetir dsb.</p>
<p><strong>Berdo&#8217;a agar syahid</strong></p>
<p>Syahid adalah dambaan setiap muslim dan merupakan cita-cita tertinggi.<br />
Rasulullah s.a.w. bersabda dalam haditsnya: &#8220;Sesiapa minta mati syahid kepada Allah dengan kesungguhan, nescaya Allah akan menyampaikannya ke tingkat orang-orang yang mati syahid, walaupun dia mati di tempat tidurnya.&#8221; (HR Muslim)</p>
<p>Di antara keutamaan orang yang mati syahid ialah diampuni semua dosanya kecuali hutang. Dan orang yang mati syahid itu tidaklah mati namun tetap hidup di sisi Allah sebagaimana firmannya: &#8220;Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.&#8221; (QS Ali ‘Imran : 169-170).<br />
Semoga kita mendapatkan gelar syuhada.</p>
<p>(Sofian)</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana' addthis:title='Istighfar pelindung bencana ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/istighfar-pelindung-bencana/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bila hari &#8216;Ied jatuh pada hari Jum&#8217;at</title>
		<link>http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat</link>
		<comments>http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 16:11:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat' addthis:title='Bila hari &#8216;Ied jatuh pada hari Jum&#8217;at '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Alhamdulillah kini telah memasuki malam terakhir Romadhon 1431 H. Sedih rasanya sebentar lagi akan berpisah dengan bulan yang penuh rahmat, ampunan, barokah, pahala yang berlimpah dan penuh dengan kesejukan hati. Romadhon kali ini juga saya rasakan membawa hikmah kesehatan akibat dari shoum yang dijalankan, karena sebelum Romadhon saya sering sakit-sakitan. Semoga kita menjadi orang yang [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat' addthis:title='Bila hari &#8216;Ied jatuh pada hari Jum&#8217;at ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat' addthis:title='Bila hari &#8216;Ied jatuh pada hari Jum&#8217;at '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p>Alhamdulillah kini telah memasuki malam terakhir Romadhon 1431 H. Sedih rasanya sebentar lagi akan berpisah dengan bulan yang penuh rahmat, ampunan, barokah, pahala yang berlimpah dan penuh dengan kesejukan hati. Romadhon kali ini juga saya rasakan membawa hikmah kesehatan akibat dari shoum yang dijalankan, karena sebelum Romadhon saya sering sakit-sakitan.</p>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Semoga kita menjadi orang yang benar-benar mendapatkan kemenangan, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Taqwa dalam arti tidak hanya pada saat bulan suci ini saja tetapi juga dalam kesebelas bulan usai Romadhon. Dan semoga amal ibadah kita baik sholat, shoum, tarawih/qiyamulail, zakat fitrah/maal, tilawah, tahfidzul qur&#8217;an, i&#8217;tikaf dan sebagainya diterima Alloh SWT sebagai ibadah yang ikhlas semata-mata hanya mencari keridhoan-Nya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Perkiraan pemerintah, 1 Syawal 1431 H kali ini akan jatuh pada hari Jum&#8217;at. Berikut adalah artikel pembahasan yang diambil dari rumaysho.com oleh ust. M. Abduh Tuasikal tentang hal ini.</div>
<div id="_mcePaste">Banyak yang menanyakan bagaimana jika Hari Raya atau Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’atnya gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied?</div>
<div id="_mcePaste">Mudah-mudahan penjelasan berikut dapat menjawab hal ini.[1]</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Apabila hari raya Idul Fithri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at, apakah shalat Jum’at menjadi gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied? Untuk masalah ini para ulama memiliki dua pendapat.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Pendapat Pertama</strong>: Orang yang melaksanakan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.</div>
<div id="_mcePaste">Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). <strong>Dalil</strong> dari pendapat ini adalah:</div>
<div></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala,</div>
<div id="_mcePaste">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ</div>
<div id="_mcePaste">“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kedua: Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at. Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</div>
<div id="_mcePaste">مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ</div>
<div id="_mcePaste">“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.”[2] Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.</div>
<div id="_mcePaste">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</div>
<div id="_mcePaste">الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ</div>
<div id="_mcePaste">“Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit.”[3]</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ketiga: Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Keempat: Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,</div>
<div id="_mcePaste">قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ</div>
<div id="_mcePaste">“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.”[4]</div>
</blockquote>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Pendapat Kedua</strong>: Bagi orang yang telah menghadiri shalat &#8216;Ied boleh tidak menghadiri shalat Jum&#8217;at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir.</div>
<div id="_mcePaste">Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. <strong>Dalil</strong> dari pendapat ini adalah:</div>
<div></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,</div>
<div id="_mcePaste">أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».</div>
<div id="_mcePaste">“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.”[5]</div>
<div id="_mcePaste">Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam Al Majmu’ (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.[6] Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[7] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.</div>
<div id="_mcePaste">Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[8]</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste"></div>
<div><strong>Kesimpulan:</strong></div>
<div id="_mcePaste">Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum&#8217;at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat &#8216;ied tidak menghadiri shalat Jum&#8217;at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga <strong>pendapat kedua dinilai lebih tepat</strong>.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</div>
<div id="_mcePaste">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.</div>
<div id="_mcePaste">“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[9]</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).</div>
<div id="_mcePaste">Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).[10]</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.  Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</div>
<div id="_mcePaste">Artikel: http://rumaysho.com</div>
<div id="_mcePaste">Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 28 Dzulqo’dah 1430 H.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">[1] Pembahasan kali ini kami olah dari Shahih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/594-596, Al Maktabah At Taufiqiyah.</div>
<div id="_mcePaste">[2] HR. Abu Daud no. 1052, dari Abul Ja’di Adh Dhomri. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.</div>
<div id="_mcePaste">[3] HR. Abu Daud no. 1067, dari Thariq bin Syihab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</div>
<div id="_mcePaste">[4] HR. Bukhari no. 5572.</div>
<div id="_mcePaste">[5] HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310.</div>
<div id="_mcePaste">[6] Dinukil dari http://dorar.net</div>
<div id="_mcePaste">[7] HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</div>
<div id="_mcePaste">[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.</div>
<div id="_mcePaste">[9] HR. Muslim no. 878.</div>
<div id="_mcePaste">[10] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al Ifta.</div>
<p>Alhamdulillah kini telah memasuki malam terakhir Romadhon 1431 H. Sedih rasanya sebentar lagi akan berpisah dengan bulan yang penuh rahmat, ampunan, barokah, pahala yang berlimpah dan penuh dengan kesejukan hati. Romadhon kali ini juga saya rasakan membawa hikmah kesehatan akibat dari shoum yang dijalankan, karena sebelum Romadhon saya sering sakit-sakitan.<br />
Semoga kita menjadi orang yang benar-benar mendapatkan kemenangan, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Taqwa dalam arti tidak hanya pada saat bulan suci ini saja tetapi juga dalam kesebelas bulan usai Romadhon. Dan semoga amal ibadah kita baik sholat, shoum, tarawih/qiyamulail, zakat fitrah/maal, tilawah, tahfidzul qur&#8217;an, i&#8217;tikaf dan sebagainya diterima Alloh SWT sebagai ibadah yang ikhlas semata-mata hanya mencari keridhoan-Nya.<br />
Perkiraan pemerintah, 1 Syawal 1431 H kali ini akan jatuh pada hari Jum&#8217;at.Banyak yang menanyakan bagaimana jika Hari Raya atau Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’atnya gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied?<br />
Mudah-mudahan penjelasan berikut dapat menjawab hal ini.[1]<br />
Apabila hari raya Idul Fithri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at, apakah shalat Jum’at menjadi gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied? Untuk masalah ini para ulama memiliki dua pendapat.<br />
Pendapat Pertama: Orang yang melaksanakan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.<br />
Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). Dalil dari pendapat ini adalah:<br />
Pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala,<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)<br />
Kedua: Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at. Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br />
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ<br />
“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.”[2] Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.<br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,<br />
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ<br />
“Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit.”[3]<br />
Ketiga: Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.<br />
Keempat: Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,<br />
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ<br />
“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.”[4]<br />
Pendapat Kedua: Bagi orang yang telah menghadiri shalat &#8216;Ied boleh tidak menghadiri shalat Jum&#8217;at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir.<br />
Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari pendapat ini adalah:<br />
Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,<br />
أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».<br />
“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.”[5]<br />
Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam Al Majmu’ (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.[6] Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.<br />
Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[7] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.<br />
Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[8]<br />
Kesimpulan:<br />
Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum&#8217;at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.<br />
Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat &#8216;ied tidak menghadiri shalat Jum&#8217;at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.<br />
Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.<br />
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[9]<br />
Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).<br />
Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).[10]<br />
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.  Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel: http://rumaysho.com<br />
Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 28 Dzulqo’dah 1430 H.<br />
[1] Pembahasan kali ini kami olah dari Shahih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/594-596, Al Maktabah At Taufiqiyah.<br />
[2] HR. Abu Daud no. 1052, dari Abul Ja’di Adh Dhomri. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.<br />
[3] HR. Abu Daud no. 1067, dari Thariq bin Syihab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.<br />
[4] HR. Bukhari no. 5572.<br />
[5] HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310.<br />
[6] Dinukil dari http://dorar.net<br />
[7] HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.<br />
[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.<br />
[9] HR. Muslim no. 878.<br />
[10] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al Ifta.</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat' addthis:title='Bila hari &#8216;Ied jatuh pada hari Jum&#8217;at ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isra Mi&#8217;raj: Sholat sebagai Mi&#8217;raj kaum mu&#8217;min</title>
		<link>http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin</link>
		<comments>http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 07:14:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Isra Mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin' addthis:title='Isra Mi&#8217;raj: Sholat sebagai Mi&#8217;raj kaum mu&#8217;min '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Setelah mendengar khutbah Jum&#8217;at (khotib: Ust. Umar Shahab) kemarin jadi pengen nulis tentang peristiwa Isra Mi&#8217;raj. Bagi seorang muslim, Isra Mi&#8217;raj adalah suatu peristiwa penting yang merupakan mu&#8217;jizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Pada sekitar 14 abad yang lalu tersebut, Rasululloh SAW mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan suci. Beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin' addthis:title='Isra Mi&#8217;raj: Sholat sebagai Mi&#8217;raj kaum mu&#8217;min ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin' addthis:title='Isra Mi&#8217;raj: Sholat sebagai Mi&#8217;raj kaum mu&#8217;min '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p>Setelah mendengar khutbah Jum&#8217;at (khotib: Ust. Umar Shahab) kemarin jadi pengen nulis tentang peristiwa Isra Mi&#8217;raj.</p>
<p>Bagi seorang muslim, Isra Mi&#8217;raj adalah suatu peristiwa penting yang merupakan mu&#8217;jizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Pada sekitar 14 abad yang lalu tersebut, Rasululloh SAW mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan suci. Beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi (sidratul muntaha) sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Dari peristiwa inilah sholat lima waktu itu mulai diwajibkan.</p>
<p>Bayangkan perjalanan yang sangat-sangat jauh itu hanya ditempuh dalam satu malam. Subhanalloh.</p>
<p>Lalu apa rahasia dibalik itu semua?</p>
<p>Isra berarti perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Perjalanan dari suatu tempat suci ke tempat suci yang lain (masjid ke masjid).</p>
<p>Mi&#8217;raj berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa, menembus langit pertama hingga ketujuh berlanjut ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha merupakan terminal/maqom terakhir yang tidak ada suatu makhluk pun yang dapat menembusnya. Bahkan malaikat Jibril pun yang menemani Rasulullah SAW meminta izin untuk tidak meninggalkannya ketika mereka telah mencapai langit ketujuh, karena ia akan terbakar jika memasukinya. Hanya Rasulullah, manusia paling sempurna, makhluk dengan tingkatan ketaatan paling tinggi yang dapat memasukinya untuk menemui sang Pencipta, Allah SWT.</p>
<p>Lalu apa hubungannya dengan kita umat muslim sekarang?</p>
<p>Seperti yang telah dijelaskan bahwa Isra Mi&#8217;raj merupakan awal diwajibkan perintah Sholat fardhu, menyembah Allah SWT.</p>
<p>Sedangkan dalam hadits riwayat Bukhari dikatakan bahwa &#8220;Sholat itu Mi&#8217;rajnya orang mu&#8217;min.&#8221; Dalam sholat kita juga menghadap/berdialog dengan Allah SWT analogi dengan Mi&#8217;raj yang dilakukan oleh Rosululloh SAW.</p>
<p>Nah pertanyaannya apakah sholat kita memang sudah merefleksikan makna Mi&#8217;raj tersebut, dengan khusyuk menghadirkan hati.</p>
<p>Ataukah shalat kita hanya sebuah gerak-gerik ucapan bibir, ketika kita mengucapkan lafaz-lafaz ucapan shalat, tanpa mengerti, memahami dan meng­hayatinya, padahal semua lafaz itu adalah dialog kita kepada Allah SWT, sehingga mungkinkah akan tercipta dialog suci itu bila pengertian, pemahaman dan penghayatan tidak ada pada diri kita.</p>
<p>Rasulullah pernah bersabda, <em>“Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan shalat (seutuhnya). Padahal tidaklah dicatat baginya oleh malaikat Raqib (sang pencatat amal baik) kecuali setengah shalat, sepertiganya, seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.”</em> (HR Ahmad dan Abu Daud).</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin' addthis:title='Isra Mi&#8217;raj: Sholat sebagai Mi&#8217;raj kaum mu&#8217;min ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/isra-miraj-sholat-sebagai-miraj-kaum-mumin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menangkan ribuan rumah impian</title>
		<link>http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian</link>
		<comments>http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 09:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofian</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[rumah impian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofianonline.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://sofianonline.com/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a><div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian' addthis:title='Menangkan ribuan rumah impian '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Anda ingin memiliki rumah impian? Rumah mewah dengan areal tanah yang luas pekarangannya, bertingkat dua atau lebih, beserta isi rumah yang seluruhnya terbuat dari emas dan perak. Caranya sangat mudah, cukup dengan mengamalkan hadits Rasulullah SAW berikut ini: Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian' addthis:title='Menangkan ribuan rumah impian ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian' addthis:title='Menangkan ribuan rumah impian '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><div class="gpo_bottomcontainer">
						<div class="gpo_buttons">
						        <g:plusone href="http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian" size="medium" count="true"></g:plusone>
						</div>
			   </div>
			   <div style="clear:both"></div><p>Anda ingin memiliki rumah impian?<br />
Rumah mewah dengan areal tanah yang luas pekarangannya,<br />
bertingkat dua atau lebih, beserta isi rumah yang seluruhnya terbuat dari emas dan perak.</p>
<p>Caranya sangat mudah, cukup dengan mengamalkan hadits Rasulullah SAW berikut ini:</p>
<blockquote><p>Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau  berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ  عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ  بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ</strong></p>
<p><strong> </strong><em>“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena  Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah  akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.”</em> (HR. Muslim no.  728)</p></blockquote>
<blockquote><p>Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat  tersebut. Beliau bersabda:</p>
<p><strong>مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ  بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ  الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ  وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ</strong></p>
<p><strong> </strong><em>“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas  rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu  empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat  setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.”</em> (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Aku menjamin sebuah rumah di surga paling bawah bagi siapa yang meninggalkan debat meskipun ia benar, sebuah rumah di surga (bagian) tengah bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun bergurau, dan sebuah rumah di surga paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.&#8221; (HR Abu Dawud, di-hasan-kan oleh Al Albani)</p></blockquote>
<p>Syaratnya begitu mudah bukan?</p>
<p>Dan yang menjanjikan adalah Sang Pencipta manusia, Alloh SWT, yang janji-Nya adalah benar.</p>
<p>So.. bagaimana? Anda tertarik?</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian' addthis:title='Menangkan ribuan rumah impian ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sofianonline.com/menangkan-ribuan-rumah-impian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

