Judulnya mungkin tidak sesuai dengan realita yang ada sekarang. Karena yang ada sekarang, seorang yang menjadi pemimpin hanya berorientasi untuk mencari harta kekayaan disamping jabatan kekuasaan yang besar. Lalu kenapa pemimpin yang kaya rakyatnya juga ikut sejahtera.
Kepemimpinan ini terjadi pada zaman kekhalifahan para sahabat Nabi Muhammad saw. Berikut adalah harta kekayaan para pemimpin di zaman kegemilangan Islam:
Kekayaan Umar bin Khattab ra
• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
• Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
• Simpanan = hutang dalam bentuk cashKekayaan Utsman bin ‘Affan ra
• Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu dirham
• Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
• Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)Kekayaan Zubair bin Awwam ra
• 50 ribu dinar
• 1000 ekor kuda perang
• 1000 orang budakKekayaan Amr bin al-Ash ra
• 300 ribu dinarKekayaan Abdurrahman bin Auf ra
• Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!
• Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar)
Itu adalah sebagian sahabat Rasululloh saw yang terkenal arif dan bijak serta taat dalam menjalankan perintah Alloh SWT. Para pemimpin di zaman tersebut bisa meraih kekayaan yang berlimpah dikarenakan motivasi terbaik mereka, mengabdi kepada Alloh SWT. Dan tentu saja, rizqi yang mereka terima, hanya yang halal saja. Ciri mereka ada pada keteguhan dan kerja keras dalam berproduksi, namun sangat hemat dalam konsumsi. Inilah zuhud yang benar. Bukan dengan ber-miskin ria lalu melegitimasi kemalasannya dengan baju zuhud.
Inilah yang menjadi pilar dimana Alloh SWT akan senantiasa mendatangkan nikmat dan akan menambahnya apabila seorang hamba bersyukur atas nikmat-Nya (seperti tersebut dalam surat Ibrahim ayat 7).
Lalu bagaimana mungkin rakyat juga ikut sejahtera?
Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas)
• Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596)
• Mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)Pada masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas)
• Yahya bin Sa’id (petugas zakat) berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
• Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal, hal 256)
Semuanya bermula dari pemimpin. Pemimpin yang mempunyai karakter akhlak yang baik tentunya menjadi panutan bagi rakyatnya untuk hidup dalam kebaikan. Di samping itu mereka memiliki kekuatan yang baik (positive power) yang berupa the power of positive thinking (husnudzan), the power of positive feeling, dan the power of positive motivation.
Ketiga kekuatan inilah yang menjadi tonggak mereka untuk hidup lebih baik tanpa memikirkan hal-hal yang negatif. Zaman sekarang, sejak kecil saja kita telah teracuni oleh hal-hal negatif yang selalu membekas di pikiran seperti berita pembunuhan, perampokan, perkosaan, atau fitnah dan mengumbar aib seperti banyak diadakan oleh stasiun televisi saat ini. Sehingga yang ada dalam pikiran kita adalah selalu berprasangka buruk (mungkin untuk hati-hati) kepada seseorang.
Di samping faktor tersebut, zakat juga berperan penting dalam mengentaskan kemiskinan. Zakat yang merupakan salah satu Rukun Islam adalah wajib dilaksanakan. Yang namanya rukun jika tidak ditegakkan maka dia akan hancur. Sama seperti syahadat, sholat fardhu, dan shaum romadhon, apabila zakat jika tidak dilaksanakan berarti mungkin kita bukan termasuk muslim. Nilai zakat inilah yang sangat membantu perekonomian umat saat itu sehingga tidak ada lagi orang yang miskin. Bahkan karena positive power, rakyatnya juga merasa malu jadi seorang penerima zakat. Sehingga mereka termotivasi untuk menjadi kaya.
Lalu kapan ini akan terwujud di negeri kita yang tercinta ini?
Jangan pernah berpikir sangat sulit. Ingatlah selalu akan positive power. Semuanya bisa jika dimulai dari diri kita sendiri.
Salam.
(Positive power diambil dari konsep spiritual-preneurship: http://www.spiritualpreneurships.co.cc)
Tags: spiritualpreneurship

